Bounty
Prolog
Namaku Yamamoto umur 35 tahun. Aku sekarang tinggal dan bekerja untuk sebuah organisasi bawah tanah di suatu tempat di kutub utara. Istri dan anakku di culik karena suatu alasan pada suatu hari menjelang natal di tahun 2035. Untuk membebaskannya, aku di paksa untuk menyusup ke angkatan udara bela diri Jepang dan di bawah ancaman aku di paksa untuk membunuh Perdana Menteri Jepang dalam suatu kunjungannya ke Cina.
Pesawat Boeing 777 yang mengangkut rombongan perdana menteri terbang dalam kawalan formasi pesawat tempur. Hanya 10 km dari ZEE pantai timur Jepang, 3 buah rudal sidewinder di bawah perut jet tempur siluman F-35J mluncur dan melesak ke kedua mesin pesawat dan ekor pesawat Boeing secara telak. Pesawat kubelokkan dan kuarahkan ke utara.
Tidak sesuai dengan rencana, jet-jet tempur AU Russia yang terdiri atas 2 unit Su-37 membayangi dan berhasil menjatuhkan F-35J dengan perlawanan yang sengit. Masalah yang kuhadapi adalah menipisnya bahan bakar dan amunisi yang tidak memadai. Aku berhasil melontarkan diri dari pesawat dan mendarat dengan keras. Setelah itu semua menjadi gelap dan ketika aku bangun, aku berada dalam sebuah fasilitas pangkalan militer rahasia yang saya perkirakan 200,000 m di bawah lapisan es kutub.
MISI TERAKHIR: SANGKALALA BERBUNYI
Mataku terbuka perlahan-lahan, ketika sinar matahari buatan itu menyusup ke dalam jendela kamar jenis studio. Lampu-lampu neon tersebut tertanam di dalam plafon dan tersusun membentuk sebuah limas. Bagaikan tinggal dalam sebuah rumah apartemen. Yukiko tidur dengan terpulas di sisiku. Wajahnya yang cantik, mungil dan imut itu tidak pernah berubah. Selalu tersenyum dan membuatku tegar dalam menghadapi segala pekerjaan yang kulakukan sekarang.Walaupun begitu, tetap masih ada yang kurang. Putraku yang berumur 7 tahun tidak pernah di kembalikan dan oleh pimpinan organisasi, mereka akan menjaganya selama yang di perlukan. Saya harap mereka bisa mengembalikannya jika semua ini usai.
Kubelai rambut istriku lurus dan kudaratkan kecupan ke keningnya. Dalam hatiku berpikir, aku sangat beruntung sekali bisa bersama Yukiko. Aku duduk di tepi ranjang sembari mengumpulkan semangatku. Entah berapa lama lagi aku harus melakukan pekerjaan kotor buat organisasi.
Setelah beberapa menit, aku beranjak meninggalkan ranjang untuk mandi dan sarapan pagi. Istriku sepertinya sebentar lagi akan segera siuman dari tidurnya yang nyenyak itu.
Jam digital persegi yang di gantung di atas ranjang spring bed menunjukkan pukul 08:00 ketika aku melangkah keluar dari kamar mandi. Sarapan pagi terdiri dari daging beruang dan telur dadar burung Camar tersusun dengan rapi dan indah di atas piring kaca. Istriku yang sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi masih sempat menanyakanku, "Selamat pagi sayang, bagaimana perasaanmu hari ini?". Wajahnya yang begitu cantik dan anggun dengan berbalutkan baju tidur yang menyerupai kain handuk dengan tali terikat di depan perutnya. Tak terbayangkan ketika kita berdua melakukannya semalam. Ia tampak tidak pernah letih dan staminanya selalu datar bahkan menggebu-gebu. "Saya merasakan hari ini sangat segar dan bersemangat berkat kamu, Say"
Tanpa sadar aku telah mendekatinya dan merapatkan badanku dengannya. Ia masih sibuk mengerjakan sarapan pagi sebelum ia mengatakan, "Jangan sekarang, sayang. Kamu harus bekerja. Bukankah kamu hari ini harus bertemu dengan Jenderal Tao?" Walaupun terasa agak sedikit menjengkelkan namun itu merupakan tuntutan pekerjaan. Aku memberikan kecupan hangat di tengkuknya. Saya tahu dia sangat kurang senang jika aku melalaikan tugas-tugasku. Ia pernah mengingatkanku bahwa putra kita berada di tangan mereka dan memintaku untuk mengerjakan segala perintahnya demi putra kita yang masih berumur 7 tahun. Walaupun lucu, ia memohon di hadapan sang suaminya dengan bersimpuh dan berlinangkan air mata.
Aku harus menahan diri dan melakukan semua pekerjaan ini demi kebebasan putra kita. Saya lalu berkata, "Saya berharap kita bisa terus seperti ini." Sambil memeluknya dari belakang. Ia lalu berbalik dan berkata kepada suaminya dengan penuh senyuman dan welas asih, "Kamu akan mendapatkan kesempatan itu malam ini dan malam lainnya. Nah sekarang jangan jadi manja dan habiskan sarapannya." Dia menjadi sedikit galak, walaupun dalam kegalakannya ia tampak manis dan cantik. Aku menggodanya dan menurut seperti anak kecil sambil berkata, "ya, mama."
"Nah sekarang papa harus siap-siap sarapan dan berangkat kerja.",